| Distribusi KUR Terganggu Sistem Distribusi |
|
|
|
| Berita - Media Massa |
| Written by Sahnan |
| Monday, 02 November 2009 11:29 |
|
Jakarta - Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan Koperasi Sandiaga Uno menyatakan, lemahnya penyerapan Kredit Usaha Kecil (KUR) lebih karena sistem administrasi yang tidak tepat. NERACA Menurutnya, penyerapan KUR dalam dua tahun terakhir baru mencapai Rp 16 trilun dari Rp 20 trilun yang disalurkan. "Lemahnya penyerapan ini karena hanya satu bank yang menjalankan distribusi KUR yaitu BRI. Sekitar 97% dari penyaluran KUR itu cuma dari bank BRI," terangnya di Jakarta, akhir pekan lalu. Sandi menyarankan agar pemerintah menambah jumlah bank yang ditugaskan mendistribusikan KUR. Hanya saja, bank tersebut harus memiliki cabang hingga ke pelosok minimal 20 cabang baik swasta maupun BUMN. "Jika hal ini tidak dilakukan maka dana KUR yang disediakan sebesar Rp 100 triliun untuk 5 tahun tidak akan terserap," jelasnya Selain itu, sambungnya, persyaratan administrasi di perbankan saat ini sangat menyulitkan. Sandi melihat, masalah paling mendasar dalam persyaratan adalah sistem ducking BI yang justru mempersulit Disamping itu, masalah pelarangan percepatan pelunasan juga dianggap mempersulit. Pasalnya UKM biasanya selalu melakukan pelunasan dengan cepat jika ada dana Bukan hanya itu, syarat tidak boleh memiliki kartu kredit juga tidak adil. "Kadang pegawai memiliki kartu kredit atai KPR, dia ingin buka usaha jadi sulit," tuturnya. Dia juga mengungkap, pada tahun tahun 2010, Bangladesh akan membangun investasi mikio finance. Hal ini dilakukan karena Bangladesh sangat unggul di bidang lembaga keuangan mikro. Sebaliknya Indonesia membutuhkan pengalaman yang lebih terkait hal tersebut. "Mereka justru sangat ahli di bidang mikro finance, sedangkan kita masih perlu belajar mengenai hal itu," urai Sandiaga. Banglades, lanjutnya, berencana melakukan investasi antara lain dengan mendirikan lembaga keuangan mikro model Association for Social Advancement (ASA), membentuk wholesaler of microfinance model Palli Karma Shayak Foundation. Untuk tahap awal akan didirikan 10 cabang di Jabodetabek pada 2010 mendatang. "Ke depan kami ingin agar kebijakan usaha mikro dilepas dari unit usaha kecil menengah," ujarnya. Packaging Center Sementara itu, Thomas Darmawan Ketua Komite Tetap Pengembangan dan Pemasaran Produk Kadin menyatakan, Kadin menargetkan penambahan 10 pusat pengemasan (packaging center) di tahun 2010 untuk sektor UKM). Menurutnya, pembangunan 10 pusat pengemasan dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk UM-KM. Pasalnya, selama ini produk UMKM khususnya makanan, masih lemah dalam pengemasan hingga menjadi sulit bersaing. "Minimal produk mereka bisa masuk di pasar dalam negeri, kita jangan bicara pasar luar negeri," terangnya Dia mengatakan, pembangunan packaging center akan menghabiskan dana investasi sekitar Rp 6 miliar hingga Rp 10 miliar. "Nanti satu proyek akan menghabiskan Rp 600 juta hingga Rp 1 miliaif tuturnya. Rencana pembangunan pusat pengemasan ini akan dilakukan di luar putau Jawa, seperti Kalimantan dan Sumatera. Pada tahun ini, rencananya akan dibangun di Surabaya dan Bandung. "Pusat Pengemasan ini, akan fokus untuk sektor makanan dan minuman," katanya. Pusat pengemasan ini, imbuhnya, akan mengajarkan bagaimana industri khususnya mamin dikemas lebih baik dari saat ini. "Kemasan menjadi faktor utama, terutama untuk ekspor," paparnya. Selain membangun pusat pengemasan, lanjut Thomas, untuk meningkatkan industri UMKM terutama sektor mamin pihaknya berencana akan membangun kerjasama dengan Sarinah untuk membuat souvenir dari makanan dan minuman. Untuk meningkatkan UKM di dalam negeri, Thomas menilai, perlu ada dukungan pemerintah terutama sisi kebijakan dan regulasi pendukung. Sumber : HARIAN EKONOMI NERACA |
| Random Content | |
Tempat Pencarian Cepat |