Klik pada gambar di bawah ini untuk mengaktifkan slideshow

Galeri

ImagePelaku usaha kecil menengah (UKM) di kawasan tengah dan timur Indonesia berpeluang meningkatkan ekspor ke Brunei Darussalam, Malaysia, dan Filipina dengan memanfaatkan perjanjian kerja sama BIMP-EAGA. BIMP-EAGA {Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia and Phi-lipines East Asean Growth Area) merupakan kerja sama peningkatan pertumbuhan ekonomi kawasan di antara empat negara Asean.

Kebutuhan Gula Rafinasi Diproyeksi 2,7 Juta Ton PDF Print E-mail
Written by Sugianto   
Wednesday, 07 November 2012 09:53

JAKARTA-Kebutuhan gula untuk industri makanan dan minuman pada tahun depan diperkirakan naik 8% menjadi 2,7 juta ton terdorong peningkatan bisnis dan permintaan konsumen.

Ketua Umum Cabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan jumlah industri makanan dan minuman pada 2013 akan bertambah seiring dengan rencana investasi dari Jepang dan Eropa.

"Industri bertambah, kebutuhan gula juga meningkat," katanya seusai kegiatan Indonesia Sugar Congress di Jakarta, Selasa (6/11).

Investor Jepang akan membuka dua pabrik di Indonesia yakni pabrik permen dan pabrik makanan ringan (snack) pada tahun depan. Sementara itu, investor dari Eropa belum menyebutkan produk yang akan dibuat di Indonesia.

Meski demikian, Adhi mengaku belum mengetahui nilai investasi masing-masing penanam modal. Beberapa waktu lalu, perusahaan minuman asal Negeri Matahari Terbit Suntory bekerja sama dengan Garuda Food memproduksi minuman bermerek Mirai Ocha yang meramaikan pasar minuman di Indonesia.

Kerja sama serupa juga dilakukan Asahi Group Holding Southeast Plt Ltd dengan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk memproduksi Pepsi.

Adhi menjelaskan dari 2,7 juta ton gula sebanyak 380.000 ton diserap oleh usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). sedangkan selebihnya diserap industri besar.

Pihaknya mengapresiasi langkah pemerintah yang menambah alokasi impor gula kasar (raw sugar) untuk gula industri rafinasi 250.000 ton.

Pada awalnya pemerintah hanya mengalokasikan 2,1 juta ton pada tahun ini sebagai bentuk sanksi perembesan gula rafinasi ke pasar gula konsumsi. Padahal, kebutuhan gula rafinasi tahun ini 2,5 juta ton.

"Dengan tambahan, itu merefleksikan rencana tahun lalu. Angka 2,5 juta ton itu realistis. Pemerintah pun akhirnya menambah," ujarnya.

Meskipun demikian, dia berharap gula untuk industri idealnya dijual di kisaran Rp8.000-Rp8.500 per kg atau lebih rendah dari Rp9.000 per kg dari posisi saat ini agar industri makanan dan minuman berdaya saing di pasar global.

Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (ACRJ) Suryo Alam mengemukakan delapan produsen gula rafinasi telah memperoleh izin impor raw sugar untuk memenuhi kebutuhan industri 2 pekan lalu.

Produsen gula rafinasi akan merealisasikan impor mulai akhir bulan ini hingga Desember dengan mendatangkan gula kasar dari Thailand dan Brasil.

PT Angels Products memperoleh alokasi 32.000 ton, PT Java Manis Rafinasi 10.000 ton, PT Sentra Usahatama Jaya 44.000 ton. PT Permata Dunia Sukses Utama 33.000 ton, PT Dharmapala Usaha Sukses 23.000 ton, PT Sugar Labinta 33.000 ton, PT Duta Sugar International 25.000 ton dan PT Makassar Tene 50.000 ton. (Sri Mas Strl)

 

Sumber: Bisnis Indonesia

 

 

LAYANAN PUBLIK

CALL-CENTER-KUKM-500587.jpg

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini4652
mod_vvisit_counterKemarin4073
mod_vvisit_counterMinggu ini17954
mod_vvisit_counterMinggu lalu12698
mod_vvisit_counterBulan ini30652
mod_vvisit_counterBulan lalu75579
mod_vvisit_counterTotal kunjungan5390744

We have: 52 guests, 26 bots online
IP: 54.80.185.204
 , 
Aug 20, 2014