Klik pada gambar di bawah ini untuk mengaktifkan slideshow

Galeri

ImageKementerian Koperasi dan UKM melakukan Bimbingan Teknis Pemberdayaan Usaha KUMKM  daerah Wisata dan Usaha Mikro Perikanan Wilayah Pesisir di Kabupaten Belitung. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah pada tanggal 26 April 2010 telah melakukan Bimbingan Teknis Pemberdayaan Usaha KUMKM, bertempat di Hotel Grand Pesona Impian Kab. Belitung dengan peserta berjumlah 80 orang usaha mikro dan kecil (UMK), diantaranya bidang usaha wisata sebanyak 30 orang, pengolahan perikanan sebanyak 50 orang yang berasal dari Kab. Belitung dan Kab. Belitung Timur.

Koperasi Harus Dilibatkan PDF Print E-mail
Written by Artikel   
Friday, 27 July 2012 09:28

BOGOR (Suara Karya) Persediaan kacang kedelai di Indonesia saat ini hanya sebanyak 740.000 ton per tahun. Sedangkan kebutuhan, termasuk untuk produsen tahu-tempe. mencapai 2,5 juta ton per tahun. Terkait hal ini, Kementerian Koperasi serta Usaha Kecil dan Menengah mengusulkan dua opsi, yakni menghapus bea masuk impor kacang kedelai serta memberikan kesempatan bagi koperasi terkait untuk melakukan impor.

Penegasan ini dikemukakan Menkop dan UKM Sjarifuddin Hasan usai buka bersama di SMP Yapsida Majelis Dzikir Nurusalam, Bogor, Rabu (25/7). "Pada Bulan Ramadhan, tahu dan tempe merupakan menu favorit. Implikasinya, permintaan konsumen maupun pengusaha makanan juga tinggi. Padahal, pasokan kacang kedelai saat ini tidak memenuhi kebutuhan yang ada, katanya.

Oleh karena itu, keberadaan tempe dan tahu serta bahan bakunya kedelai harus dijaga. Jangan sampai ketersediaannya minim dan menimbulkan masalah, seperti aksi mogok produksi yang dilakukan pengusaha tempe dan tahu. "Saat ini pemerintah sedang merumuskan solusinya. Dari rumusan yang sedang digodok, Kcmenkop dan UKM akan memberikan saran dua opsi kebijakan. Kita juga sedang mengkaji rumusan lainnya," tuturnya.

Di tempat terpisah, Wakil Ketua Komisi VI DPR Ana Bima meminta pemerintah memberikan subsidi untuk pengadaan kedelai bagi produsen tahu dan tempe. Apalagi harga kedelai terus melonjak dan belum bisa diprediksi kapan berakhir. Pemberian subsidi bagi produsen tahu-lempe tergolong penting, karena pembebasan bea masuk impor kedelai hanya mampu mengurangi harga Rp 400 per kilogram (kg).

"Pembebasan bea masuk tidak bisa bantu pengusaha tahu dan tempe dari kebangkrutan. Harus ada subsidi yang diberikan pemerintah dan ini memungkinkan," kata Aria di sela peninjauan di sentra pembuatan tahu dan tempe di Solo.

Pemerintah bisa melakukan subsidi dengan melakukan penyisiran anggaran dan pengurangan inefisiensi. Menurut Aria Bima, pemberian subsidi dibutuhkan. Ini mengingat selama iri tahu dan tempe merupakan bahan substitusi kebutuhan protein hewani. Terutama bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah, mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan protein hewani, sehingga mengkonsumsi tahu dan tempe untuk memenuhi kebutuhan proteinnya.

"Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) saat ini ada 30 persen bayi dan balita di Indonesia mengalami gizi buruk. Jika harga kedelai terus melonjak, maka perajin tahu dan tempe tidak bisa lagi berproduksi, akibatnya akan makin banyak kasus gizi buruk di Indonesia," katanya. Aria Bima menjelaskan, besarnya subsidi yang bisa diberikan pemerintah kepada pengusaha tahu dan tempe minimal sebesar Rp 1.000 per kilogram. Dengan subsidi ditam bah dari insentif pembebasan bea masuk, maka dinilainya sudah sepadan dengan kenaikan harga kedelai saat ini.

Sementara itu, perajin tahu tempe di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) terpaksa harus mengurangi volume atau ukuran tahu tempe yang dijual ke pasaran. Ini karena harga kedelai mengalami kenaikan. "Besaran tahu-tempc kami kurangi agar bisa mendapat untung. Jika tidak, kami akan mengalami kerugian," kata Maryono, pengrajin tahu tempe di Kupang.

Menurut dia, kenaikan harga kedelai sangat berpengaruh dengan produksi tahu-tempe yang akan dipasarkan. Masalah ini juga berimbas pada keuntungan yang didapat. Sebelumnya harga kedelai per karung dibeli dengan harga Rp 300.000. Namun saat ini mencapai Rp 400.000 per karung. Biasanya penghasilan mencapai Rp 3 juta per bulan dengan memproduksi tahu tempe sebanyak lima karung (asumsi satu karung bisa untung sebesar Rp 125.000). Namun sekarang keuntungan hanya sebesar Rp 25.000 per karung per hari.

Di lain pihak, peningkatan harga kedelai membuat konsumen tahu-tmpe beralih ke makanan tradisional tempe benguk. Tempe dari bahan biji benguk ini dinilai mampu menjadi makanan alternatif pengganti tempe berbahan baku kedelai. "Sejak tiga hari ini tempe benguk buatan kami terjual laris manis," kata Parjiman, salah seorang perajin tempe benguk dari Desa Ringinharjo, Bantul, Kamis (26/7).

Menurut dia, tempe benguk buatannya rasanya lebih gurih dibanding tempe asal kedelai. Selama membuat tempe benguk, Parjiman mengaku tidak kesulitan bahan baku. Karena bahan baku tempe benguk diambil dari pohon benguk yang banyak tumbuh di kawasan pegunungan Gunungkidul dan perbukitan Imogiri, Bantul.

 

SUmber : Suara Karya

 

DATA UKM

CALL-CENTER-KUKM-500587.jpg